Ihya Ulumuddin | al-Mutarosimun

Ihya Ulumuddin | al-Mutarosimun

Ketika kamu sudah merasa sangat puas dengan pencapaian-pencapaian duniawiyah  yang ada di tanganmu, padahal semua ini adalah pencapaian yang sudah dijanjikan oleh Allah SWT.

Yang namanya pelajar/santri jikalau rajin dalam belajar pasti rizkinnya akan mudah didapatkan, artinya ketika sukses dan memiliki dunia dan merasa tentram dan aman karena merasa keramat (terpandang) atau ditokohkan, contohnya  ketika kamu tersohor maka para pejabat datang , orang besar datang orang kaya datang kepadamu, lalu kamu merasa tenang dan nyaman dengan hal itu maka kamu termasuk yang disebut oleh Imam Ghozali dalam bab ini.

Efek sampingnya kamu mulai jarang belajar kembali, jarang mengasah ilmunya, jarang membaca buku ilmiah / kitab berarti dia termasuk Yo berarti awakmu masuk almutarosimun.  Al Mutarosimun ( المترسمون | yaitu orang – orang yang sejatinya bukan ulama karena tidak memenuhi kriteria ulama, namun mereka meniru, berperilaku, berpakaian layaknya ulama).

Jika tidak seperti itu, kamu masih menjaga untuk belajar dan sebagainya, maka kamu masih merupakan murid Imam Ghozali.

Ingat yah , ini tentang kamu dan saya, bukan tentang orang lain !!

Jangan terbiasa untuk menilai apa yang dilakukan oleh orang lain. Ibaratnya rumah kita sudah keropos dan mau ambruk, lalu kita menilai dan mengoreksi rumah orang lain. Tentu itu hal yang tidak pantas.

Ini dikisahkan dalam kitab Ihya karena Imam Ghoali juga pernah mengalami hal tersebut. Dari sepulang belajarnya, ribuan orang datang dengan membawa berbagai macam barang, kemudian Imam Ghozali menghindari hal tersebut, karena yang dicari oleh beliau adalah ketenang akhirat.

Memutar balikkan fakta

Ketika kamu sudah merasa terkenal / ditokohkan, ada kemungkinan kamu akan kawatir kehilangan jabatan dan penohokan tersebut, kawatir santri berkurang, kawatir jamaah menghilang, dan akhirnya mencoba memutar balikkan fakta atau membuat rekayasa dalam kebenaran hanya untuk menyenangkan kelompoknya, baik dalam menyampaikan fatwa atau narasi dalam ceramahnya, sehingga hukum ini seakan dipermainkan.

Oleh karena itu jika mengagumi seorang kakek , cukup kakeknya saja yang kita kagumi, tentu anak apalagi cucu, belum tentu sama seperti kakeknya. Contoh saja Nabi Nu a.s istrinya Walighah (Walihah/Wakilah) dan putra Kan’an, Nabi Ibrahim yang bapaknya adalah pembuat patung. Jadi walaupun ada jalur generasi tetapi pasti beda.

Menggunakan segala cara agar menang debat

Ketika ada sebuah diskusi antara orang yang ditokohkan tadi dengan orang umum, kemudian mencari segala cara / argumentasi hanya untuk memenangkan perdebatan.

Merangkai sajak (kata indah) yang di hias

Kemudian kamu merangkai sajak yang dihias dengan kata – kata manis, berharap orang lain terkesima, terpesona dengan rayuan dan kata manis itu. Tapi sepertinya sekarang bukan hanya kata – kata manis, teetapi juga uang atau sarung atau semisalnya. berbondong – bondong meramaikan sebuah acara “pengajian” yang diharapkan bukan ilmu, tetapi “sangu” dunia. Jadi kata – kata indah itu digunakan untuk menipu dan membodohi umat yang awam.

disclaimer : tulisan diatas dikutip dan diedit dari video dibawah ini .

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan