Ayat kauniyah berasal dari kata dalam bahasa Arab bertulisakan“kaun” (الكون) adalah isim berasal dari kata كَانَ kata kerja lampau (fiil maklum madhi) yang berarti ada , sedangkan kaun sendiri adalah berasal dari jenis isim masdar (kata benda yang berasal dari kata kerja yang menunjukkan kejadian atau keadaan) yang berarti keadaan atau ciptaan atau alam semesta dan isinya. Sehingga makna ayat kauniyah adalah tanda – tanda kebesaran Allah yang tampak di alam semesta. Bentuknya adalah berupa fenomena alam seperti langit, bumi, hujan, tumbuhan, hewan, manusia, dan sebagainya. Tujuan diterangkan dan ditunjukkan kepada kita semua adalah agar semua umat manusia pada umumnya dan kita pada khusunya berpikir dan mengenal kebesaran Allah SWT. Dengan demikian dalam materi pembelajaran kita yang berketerkaitan dengan Sains, banyak ayat kauniyah selaras dengan temuan ilmiah modern. Sehingga pelajaran tentang sains berdampak positif terhadap nilai spiritual dengan menumbuhkan dan meningkatkan keimanan, rasa syukur, dan kesadaran bahwa alam tunduk pada kehendak Allah SWT.
Dibawah ini adalah penjelasan tentang ayat kauniyah yang disusun dengan struktur ayat yang disampaikan terlebih dahulu, kemudian terjemahan dari ayat tersebut, lalu penjelasan dari ahli tafsir dalam hal ini digunakan tafsir Ibnu Katsir, dan keterangan pendek tentang pesan atau renungan dari ayat tersebut.
II. Ayat – ayat Kauniyah
- Penciptaan Langit dan Bumi
Alam semeta raya ini tentu ada langit dan bumi. Tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah [2] ayat 164 sebagai berikut.
إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلْفُلْكِ ٱلَّتِى تَجْرِى فِى ٱلْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٍ فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ ٱلرِّيَٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلْمُسَخَّرِ بَيْنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ
Artinya dari surat diatas adalah “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
Penjelasan dalam tafsir Ibnu Katsir adalah Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi yang kita lihat sekarang ketinggiannya, keindahannya, keluasannya, bintang-bintangnya yang beredar, yang tetap, serta perputaran falak (kosmik)nya; dan bumi ini yang dengan kepadatannya, lembah-lembahnya, gunung-gunungnya, lautannya, padang saharanya, hutan belantaranya, dan keramaiannya serta segala sesuatu yang ada padanya berupa berbagai macam manfaat; pergantian malam dan siang hari; datang, lalu pergi, kemudian digantikan dengan yang lainnya secara silih berganti tanpa ada keterlambatan barang sedikit pun, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya {لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ} artinya “tidaklah mungkin matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (Yasin: 40). Adakalanya yang ini panjang dan yang itu pendek, dan adakalanya yang ini mengambil sebagian waktu dari yang itu. Demikianlah set-rusnya secara bergantian, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya {يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ} yang artinya “Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam.” (Al Hajj: 61, Luqman: 29, Fathir: 13, Al-Hadid: 6) ayat lait yang semakna namun berbeda penggunaan kata.
Lalu lanjutan firman Allah SWT {وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ} artinya “bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia.” Yakni Allah menundukkan laut agar dapat membawa berlayar perahu-perahu dari satu pantai ke pantai yang lain untuk keperluan penghidupan manusia dan dapat dimanfaatkan oleh para penduduk yang berada di kawasan tersebut, sebagai jalur transportasi untuk mengangkut keperluan-keperluan dari suatu pantai ke pantai yang lainnya secara timbal balik.
Lanjutan firman Allah Swt {وَمَا أَنزلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا} artinya “dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya.”Ayat ini semakna dengan ayat lainnya, yaitu firman-Nya وَآيَةٌ لَهُمُ الْأَرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْناها وَأَخْرَجْنا مِنْها حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ- إلى قوله- وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ yang artinya “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka darinya mereka makan sampai dengan firman-Nya, “Maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (Yasin: 33-36).
Lanjutan firman Allah Swt {وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ} yang artinya “dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan.“ dengan berbagai macam bentuk, warna, kegunaan, kecil, dan besar-nya. Dia Maha Mengetahui semuanya itu dan Dia memberinya rezeki, tiada sesuatu pun yang samar bagi-Nya dari hal itu, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya وَما مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُها وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّها وَمُسْتَوْدَعَها كُلٌّ فِي كِتابٍ مُبِينٍ yang artinya”Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (Hud: 6)
Lanjutan Firman Allah Swt{وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ} yang artinya “dan pengisaran angin.” Memiliki makna bahwa adakalanya datang membawa rahmat, dan adakalanya datang membawa bencana. Adakalanya angin datang membawa tanda yang menggembirakan, yaitu awan yang mengandung hujan; adakalanya angin menggiringnya dan menghimpunkannya; dan adakalanya mencerai-beraikannya, lalu mengusirnya. Kemudian adakalanya ia datang dari arah selatan yang dikenal dengan angin syamiyah, adakalanya datang dari arah negeri Yaman, dan adakalanya bertiup dari arah timur yang menerpa bagian muka Ka’bah, kemudian adakalanya ia bertiup dari arah barat yang menerpa dari arah bagian belakang Ka’bah. Memang ada sebagian orang yang menulis tentang angin, hujan, dan bintang-bintang ke dalam banyak karya tulis, yang pembahasannya memerlukan keterangan yang panjang bila dikemukakan di sini.
Lanjutan firman Allah Swt. {وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ} yang artinya “dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi.” Maknanya adalah awan bergerak antara langit dan bumi, ditundukkan menuju tempat-tempat yang dikehendaki oleh Allah dan dipalingkan menurut apa yang dikehendaki-Nya.
Lanjutan firman Allah Swt. {لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ} yang artinya “sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” Maknanya adalah dalam kesemuanya itu benar-benar terdapat tanda-tanda yang jelas menunjukkan keesaan Allah Swt. dan kebesaran kekuasaan-Nya. Seperti yang disebutkan di dalam ayat lainnya, yaitu firman-Nya {إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ * الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ} artinya “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran: 190-191).
Dalam sebuah hadis dari Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih mutawatir hingga Ibnu Abbas yang menceritakan hadis berikut: “Orang-orang Quraisy datang kepada Nabi Saw., lalu mereka berkata, “Hai Muhammad, sesungguhnya kami menginginkan kamu mendoakan kepada Tuhanmu agar Dia menjadikan Bukit Safa ini emas buat kami. Untuk itu maka kami akan membeli kuda dan senjata dengannya, dan kami akan beriman kepadamu serta berperang bersamamu.” Nabi Saw. menjawab, “Berjanjilah kalian kepadaku, bahwa sekiranya aku berdoa kepada Tuhanku, kemudian Dia menjadikan bagi kalian Bukit Safa emas, kalian benar-benar akan beriman kepadaku.” Maka mereka mengadakan perjanjian dengan Nabi Saw. untuk hal tersebut. Lalu Nabi Saw. berdoa kepada Tuhannya, dan datanglah Malaikat Jibril kepadanya, lalu berkata, “Sesungguhnya Tuhanmu sanggup menjadikan Bukit Safa emas buat mereka, dengan syarat jika mereka tidak juga beriman kepadamu, maka Allah mengazab mereka dengan siksaan yang belum pernah Dia timpakan kepada seorang pun di antara makhluk-Nya.” Nabi Muhammad Saw. berkata, “Wahai Tuhanku, tidak, lebih baik biarkanlah aku dan kaumku. Aku akan tetap menyeru mereka dari hari ke hari.” Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia.” (Al-Baqarah: 164), hingga akhir ayat.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya pula dari jalur lain melalui Ja’far ibnu Abul Mugirah dengan lafaz yang sama. Ia menambahkan di akhirnya وَكَيْفَ يَسْأَلُونَكَ عَنِ الصَّفَا وَهُمْ يَرَوْنَ مِنَ الْآيَاتِ مَا هُوَ أَعْظَمُ مِنَ الصَّفَا. (Malaikat Jibril berkata), “Mengapa mereka meminta kepadamu Bukit Safa (agar dijadikan emas), padahal mereka melihat tanda-tanda kekuasaan Allah yang lebih besar daripada Bukit Safa itu?”
Ringkasan singkat dari penjelasan ayat diatas adalah menunjukkan bahwa seluruh sistem alam, langit, bumi, laut, dan rotasi waktu adalah bukti kekuasaan Allah. Secara ilmiah, rotasi bumi mengakibatkan pergantian siang dan malam, sistem gravitasi menjaga keseimbangan langit dan bumi, semua berjalan sesuai hukum Allah. Dengan demikian ayat ini mengandung pesan sesungguhnya manusia diperintahkan untuk merenungi ciptaan Allah agar sadar bahwa semua keteraturan ini bukan kebetulan, melainkan bukti keesaan dan kekuasaan-Nya.
- Pergantian Siang dan Malam
Sebetulnya sudah tercantum dalan keterangan diatas, sehingga dikutipkan dari surat lain yaitu dalam Al-Qur’an Yunus [10]: 67 sebagai berikut.
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ
Artinya dari surat diatas adalah “Dialah yang menjadikan malam bagi kalian supaya kalian beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang-benderang (supaya kalian mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar.”
Penjelasan dalam tafsir Ibnu Katsir yaitu yang mendengar hujah-hujah dan dalil-dalil ini, lalu mereka mengambil pelajaran darinya: dan mereka menyimpulkan darinya kebesaran dari Tuhan yang menciptakan, mengatur, dan memperjalankan semuanya (alam semesta) itu. Ringkasan penulis dalam ayat ini bahwa fenomena rotasi bumi menyebabkan pergantian siang dan malam yang teratur. Malam diciptakan untuk istirahat, siang untuk beraktivitas ini menunjukkan keseimbangan dan kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya.
- Hujan dan Siklus Air
Bulan ini adalah musim penghujan, bagaimana kita menikmati rahmat dari Allah berupa air hujan. Adakah kita pernah berpikir darimana air hujan itu? Tentang hujan diterangkan dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rum, ayat 48 sebagai berikut.
اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
Artinya dari surat diatas adalah “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira..”
Penjelasan dalam tafsir Ibnu Katsir yaitu Allah Swt. menjelaskan bagaimana Dia menciptakan awan yang menurunkan air hujan. Untuk itu Dia berfirman اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا artinya “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan.” Adakalanya awan itu datangnya dari laut, sebagaimana yang disebutkan oleh bukan hanya seorang ulama; atau dari tempat yang dikehendaki oleh Allah Swt. فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ artinya “sehingga Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya.” Yakni membentangkannya, menjadikannya bertambah banyak dan berkembang, lalu menjadikannya dari sedikit menjadi banyak. Pada mulanya Dia menjadikan awan yang kelihatan di mata bagaikan perisai, lalu Dia bentangkan sehingga memenuhi cakrawala langit. Adakalanya pula awan datang dari arah laut yang mengandung air yang sangat banyak, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya
وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنزلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Artinya “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus sampai dengan firman-Nya: Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (Al-A’raf: 57)
Demikian pula dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:
{اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا}
Artinya “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya dan menjadikannya bergumpal-gumpal. “ Mujahid, Abu Amr ibnul Ala, Matar Al-Warraq, dan Qatadah mengatakan bahwa makna kisafan ialah bergumpal-gumpal, sedangkan yang lain mengartikannya bertumpang tindih, sebagaimana yang dikatakan oleh Qatadah. Yang lainnya lagi mengatakan berwarna hitam karena banyaknya kandungan air sehingga terlihat gelap, berat, lagi dekat dengan bumi.
Firman Allah Swt
{فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلالِهِ}
Artinya “lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya.” Yakni kamu akan melihat adanya air hujan yang keluar di antara celah-celah awan itu.
{فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ}
Artinya “maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.”
Ringkasan penulis dalam ayat ini bahwa Ayat ini menggambarkan siklus air secara ilmiah yaitu dimulai dengan penguapan kemudian pembentukan awan lalu terjadi pengembunan dan akhirnya turunnya hujan. Proses ini menunjukkan sistem alam yang sangat teratur dan penting bagi kehidupan.
- Penciptaan Manusia
.Sebagai manusia kita harus mulai menyadari tentang diri sendiri, perwujudannya dan dari mana asalnya. Sebuah kalimat arab berkata “ barang siapa mengetahui dirinya, maka dia akan mengetahui Tuhannya”. Dalam Alquran terdapat ayat yang berhubungan dengan penciptaan manusia, salah satunya adalah Surat Al-Mukminun 12-14.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ # ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ # ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Artinya dari surat diatas adalah “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu Hilang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”
Penjelasan dalam tafsir Ibnu Katsir yaitu Allah Swt. berfirman, menceritakan permulaan kejadian manusia yang dibentuk dari saripati tanah, yaitu Adam a.s. Allah menciptakan Adam dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Al-A’masy mutawatir dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dari suatu saripati (berasal) dari tanah, yakni dari saripati air. Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna Min Sulalatin, artinya dari air mani anak Adam. Ibnu Jarir dan Qotadah mengatakan, sesungguhnya manusia pertama dinamakan Adam karena ia diciptakan dari tanah liat. Pendapat ini lebih jelas pengertiannya dan lebih mendekati konteks ayat, karena sesungguhnya Adam diciptakan dari tanah liat, yaitu tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk.Hal ini berarti Adam diciptakan dari tanah, seperti yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ}
Artinya “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kalian dari tanah, kemudian tiba-tiba kalian (menjadi) manusia yang berkembang biak.” (Ar-Rum: 20)
Imam Ahmad mutawatir dari Abu Musa, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari segenggam tanah yang diambil dari seluruh bumi, maka Bani Adam muncul sesuai dengan tabiat tanah; di antara mereka ada yang berkulit merah, ada yang berkulit putih, ada yang berkulit hitam, serta ada yang campuran di antara warna-warna tersebut dan ada yang buruk ada yang baik, ada pula yang campuran di antara baik dan buruk.”
{ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً}
Artinya “Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani.”
Damir yang terdapat di dalam ayat ini kembali kepada jenis manusia, sama halnya dengan apa yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman-Nya {وَبَدَأَ خَلْقَ الإنْسَانِ مِنْ طِينٍ * ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ} yang artinya “dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).” (As-Sajdah: 7-8) . Yakni air mani yang lemah. Sama dengan yang djsebutkan oleh firman-Nya {أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ. فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَكِينٍ} artinya “Bukankah Kami menciptakan kalian dari air yang hina, kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim). (Al-Mursalat: 20-21)
Maksudnya, masa yang telah dimaklumi dan batas waktu yang telah ditentukan hingga bentuknya menjadi kokoh, dan mengalami perubahan dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain dan dari suatu bentuk kepada bentuk yang lain. Karena itulah dalam ayat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:
{ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً}
Artinya “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah.”
Yakni kemudian Kami jadikan air mani yang terpancarkan dari tulang sulbi laki-laki dan dari tulang dada perempuan segumpal darah mereka yang berbentuk memanjang. Ikrimah mengatakan bahwa ‘alaqah adalah darah.
{فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً}
Artinya “lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging. “ Yaitu berupa segumpal daging yang tidak berbentuk dan tidak pula beralur.
{فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا}
Artinya “dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. “
Artinya, Kami beri bentuk sehingga mempunyai kepala, dua tangan dan dua kaki berikut tulang-tulangnya, otot-ototnya, dan urat-uratnya. Ulama lain membacanya ‘azman, bukan ‘izaman, menurut Ibnu Abbas artinya tulang sulbi.

