Pendakian Gunung Saat ini, FOMO ?

Pendakian Gunung Saat ini, FOMO ?

Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas wisata pendakian gunung semakin populer di kalangan masyarakat Indonesia. Gunung-gunung seperti Semeru, Rinjani, Prau, dan Bromo kini hampir selalu ramai dikunjungi, terutama saat musim liburan. Fenomena ini banyak dipengaruhi oleh media sosial, di mana foto-foto pendaki di puncak gunung menjadi simbol petualangan dan kebebasan. Salah satu pendaki muda asal Bandung, Raka (25 tahun), mengatakan, “Awalnya saya hanya ikut teman mendaki, tapi setelah sampai puncak dan melihat matahari terbit, rasanya luar biasa. Sejak itu saya jadi rutin mendaki, karena merasa dekat dengan alam dan diri sendiri.”

Pandangan masyarakat terhadap maraknya pendakian ini umumnya positif. Banyak yang menilai bahwa tren tersebut menandakan meningkatnya kesadaran akan pentingnya berinteraksi dengan alam dan menjaga kesehatan fisik. Aktivitas mendaki juga dianggap mampu membentuk karakter disiplin, tangguh, dan rendah hati. Seorang guru sekaligus pembina pecinta alam di Surabaya, Ibu Sari, berpendapat, “Anak-anak sekarang butuh pengalaman nyata di alam. Gunung adalah tempat belajar tanggung jawab, bukan hanya tempat foto-foto.” Pandangan ini menunjukkan bahwa pendakian dapat berfungsi sebagai sarana pendidikan karakter dan spiritual.

Dari sisi ekonomi, masyarakat sekitar gunung merasakan dampak positif yang cukup besar. Banyak warga desa membuka jasa ojek, warung, penginapan, hingga penyewaan peralatan mendaki. Pemerintah daerah juga mulai menata kawasan wisata gunung dengan lebih profesional melalui sistem tiket elektronik, pembatasan kuota pendaki, dan penyediaan fasilitas keamanan. Warga Desa Ranu Pani, misalnya, menyebut bahwa pendakian telah membantu ekonomi keluarga. “Dulu sepi, sekarang ramai. Kami bisa jual makanan, sewa tenda, hasilnya buat sekolah anak,” ujar Pak Slamet, salah satu warga yang tinggal di kaki Gunung Semeru.

Namun, tidak semua masyarakat memandang fenomena ini dengan antusias. Beberapa kelompok pemerhati lingkungan justru khawatir dengan meningkatnya kerusakan ekosistem di kawasan gunung. Banyak jalur pendakian mengalami penurunan kualitas karena sampah, vandalisme, dan kebakaran hutan. Seorang aktivis lingkungan dari komunitas “Save Mountain Indonesia” mengatakan, “Gunung bukan tempat wisata massal. Banyak pendaki datang tanpa bekal pengetahuan dan tanggung jawab, akhirnya gunung jadi korban.” Hal ini menggambarkan sisi gelap dari tren pendakian yang belum sepenuhnya diimbangi dengan kesadaran ekologi.

Selain itu, muncul pula persoalan nilai budaya dan spiritual. Bagi sebagian masyarakat adat, gunung merupakan tempat sakral yang harus dihormati. Aktivitas pendakian yang bersifat komersial kadang dianggap melanggar batas kesopanan dan adat setempat. Tokoh adat dari lereng Merapi, Mbah Darmo, menuturkan, “Gunung itu bukan tempat main-main. Ada ruh penjaga, ada sejarah. Kalau naik, harus tahu tata kramanya.” Pandangan seperti ini menunjukkan adanya ketegangan antara nilai tradisional dan tren modernisasi wisata alam.

Fenomena ini juga memunculkan dilema etika bagi para pendaki. Banyak yang mulai menyadari bahwa mendaki bukan hanya soal menaklukkan puncak, tetapi tentang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Beberapa komunitas pendaki kini aktif mengkampanyekan gerakan “Leave No Trace” dan “Pendaki Bertanggung Jawab” sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian alam. Seorang anggota komunitas tersebut, Dina, menegaskan, “Kalau kita cinta gunung, ya harus dijaga. Jangan cuma mau indahnya, tapi lupakan tanggung jawabnya.”

Bagi pemerintah dan pengelola kawasan wisata, tantangan terbesarnya adalah menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, konservasi, dan keselamatan pendaki. Diperlukan kebijakan yang tegas namun edukatif agar wisata pendakian tetap dapat dinikmati tanpa merusak alam. Program pelatihan bagi pendaki pemula, pengawasan ketat terhadap jumlah pengunjung, serta kerja sama dengan masyarakat lokal menjadi langkah penting menuju pendakian yang berkelanjutan.

Secara keseluruhan, masyarakat kini melihat wisata pendakian sebagai fenomena sosial yang memiliki dua sisi: memberi manfaat ekonomi dan emosional, namun juga menuntut kesadaran moral dan tanggung jawab tinggi. Pendakian seharusnya tidak hanya menjadi tren atau ajang eksistensi di media sosial, tetapi juga ruang refleksi, pembelajaran, dan penghormatan terhadap alam. Jika dijalankan dengan kesadaran penuh, wisata pendakian dapat menjadi salah satu wujud terbaik dari hubungan harmonis antara manusia, budaya, dan alam Indonesia yang megah.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan