Cinta dan Harta  (3M)

Cinta dan Harta (3M)

Senja baru saja turun ketika kabar itu menyebar di kampung.
Pratama, pria paruh baya yang rambutnya mulai memutih, akan menikahi Yura, gadis berusia dua puluhan yang dikenal baik, pendiam, dan jarang keluar rumah.
Desas-desus mulai terdengar—ada yang heran, ada yang geli, ada pula yang iri.

“Yura dapat suami kaya,”
“Rezekinya besar, lihatlah nanti,”
“Ah… cinta tak kenal usia,”

Begitulah bisikan tetangga.
Di pelaminan, Pratama duduk gagah, mengenakan beskap hitam dengan cincin emas besar di jarinya. Yura, meski tersenyum, terlihat canggung. Tangannya dingin, matanya sesekali menunduk seolah belum yakin apakah ia melakukan hal yang benar.

Namun tepuk tangan, ucapan selamat, dan lampu kamera membuat semuanya terasa nyata.
Hari itu, semua orang percaya Yura telah menemukan jalannya menuju kehidupan baru yang penuh kemewahan.


Saat penghulu menanyakan mahar, Pratama tidak menyerahkan emas, bukan pula uang tunai.

Ia mengeluarkan selembar cek—tebal, bergambar logo bank ternama, dengan angka yang membuat siapa pun menahan napas:

Rp 3.000.000.000
Tiga Miliar Rupiah.

Seisi ruangan terdiam. Mata membesar. Mulut menganga.

Ibunya Yura hampir tidak percaya, sementara ayahnya berusaha tetap tenang meski hatinya tak berhenti mengucap syukur.
Foto cek itu diabadikan. Diunggah. Disebarkan. Dalam hitungan jam, pernikahan itu viral di grup keluarga, komunitas, bahkan media sosial lokal.
Tidak ada yang bertanya apakah cek itu dapat dicairkan.
Tidak ada yang curiga.
Semua larut dalam kekaguman.


Awalnya, kehidupan setelah pernikahan terasa seperti mimpi.
Pratama sering berkata:

“Sabar ya, sayang. Dana masih dalam proses pencairan. Aku sedang transfer investasi dari luar negeri.”

Ia menjanjikan rumah megah, mobil sedan terbaru, bahkan rencana bulan madu ke Turki atau Dubai.
Yura mendengarkan, percaya, karena ia ingin yakin bahwa keputusan menikahinya adalah langkah yang tepat.
Mereka pergi makan di restoran, meskipun Pratama beberapa kali berkata,

“Ah, dompetku tertinggal, kau bayarkan dulu ya.”

Awalnya Yura tidak mempersoalkannya—namanya juga pasangan baru.
Hari berganti minggu.
Janji tetap tinggal janji.
Namun Yura masih bertahan, mungkin karena harapan, mungkin karena gengsi, atau mungkin karena ia takut menjadi bahan gunjingan.


Tetangga dan kerabat mulai memperhatikan bahwa kehidupan pasangan itu tidak berubah. Tidak ada mobil baru. Tidak ada rumah megah. Tidak ada tanda-tanda kekayaan seperti yang dipamerkan di hari pernikahan.
Pertanyaan kecil mulai muncul:

“Katanya miliarder, kok masih tinggal di kontrakan?”
“Kok belanja di warung, bukan di supermarket besar?”

Senyuman simpatik berubah menjadi lirikan tajam.
Bisikan kagum berubah menjadi cibiran.
Maka pelan-pelan, keluarga Yura mulai resah.
Mereka menahan diri, namun kecurigaan tak lagi bisa dibendung.


Suatu sore, ayah Yura memberanikan diri membawa cek itu ke bank.
Petugas bank menatap cek itu lama, sangat lama, sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas:

“Maaf Pak… cek ini tidak valid. Ini bukan produk dari bank kami.”

Ayah Yura terdiam.
Kakinya lemas.
Ketika kabar itu disampaikan pada Yura, wajahnya pucat. Dunia seakan runtuh.
Ia bertanya pada Pramata dengan suara bergetar:

“Mas… ini bagaimana? Kenapa ceknya tidak berlaku?”

Pratama marah besar.

“Kalian tidak percaya? Kalian menghina aku? Semua hanya butuh waktu!”

Ia mengelak, memaki, bahkan memutar balik keadaan — seolah merekalah yang bersalah karena tidak sabar.

Namun semakin ia berbicara, semakin jelas bahwa kata-katanya hanya usaha mempertahankan kebohongan.


Setelah laporan dibuat dan bukti terkumpul, polisi mulai mengawasi. Pratama mencoba kabur, menghilang, lalu kembali lagi dengan alasan bisnis.
Namun pelariannya tidak lama.
Dua bulan setelah pernikahan itu, sirine mobil polisi terdengar di depan kontrakan. Pratama diborgol dengan kepala tertunduk.
Di kantor polisi terungkap:
Ia sudah berkali-kali melakukan hal serupa—berpura-pura kaya, memamerkan cek palsu, menikahi perempuan, lalu menghilang sebelum dituntut.
Yura menangis, bukan hanya karena tertipu, tetapi karena martabatnya terasa diremukkan di depan orang banyak.


Ini hanya kisa fiktif, kisah ini meninggalkan luka, namun juga pelajaran.
Bahwa kemewahan bukan ukuran cinta. Bahwa kertas dengan angka besar belum tentu bernilai apa-apa. Bahwa kejujuran lebih mahal daripada mahar miliaran rupiah.
Cinta tidak dibangun dari janji kosong, gengsi, atau angka yang ditulis di atas kertas.
Cinta sejati hanya butuh dua hal ketulusan dan tanggung jawab.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan